Jeffrey Lim, B.Comp, M.C.S
Pernahkah kita amati mengenai realitas ini : ketika kita berbicara dengan orang yang cemas, ketika kita membaca raut muka dan bahasa tubuh serta wajahnya seseorang yang sedang stres, ketika kita melihat ketegangan orang itu, ternyata pancaran ini akan sedikit banyak membuat kita menjadi gelisah ?
Manusia diciptakan Tuhan untuk saling berelasi dan koneksi. Sepertinya realitas dunia emosi seseorang itu akan terpancar kepada sesamanya dan yang kemudian akan diinterpretasikan dengan frekuensi gelombang yang sama. Inilah yang memungkinkan manusia bisa saling mengerti satu sama lain bahkan ketika belum ada kata-kata. Bahasa tubuh mempunyai kata-kata dan pengertiannya sendiri di dalam otak kita manusia.
Ketika wajah kita memancarkan kegelisahan dan ketegangan maka akan membuat sekitar terpengaruh. Ketika wajah kita memancarkan damai sejahtera maka ini pun akan menular kepada sekitar.
Tetapi ada permasalahan pada orang-orang yang mengalami peristiwa traumatik di dalam hidup mereka di dalam mereka menginterpretasikan bahasa tubuh dan wajah orang lain. Peristiwa Trauma itu dapat terjadi karena perang, korban kekerasan, korban pemerkosaan, korban pelecehan, korban bully, bahkan bisa terjadi karena peristiwa pengabaian yang terus menerus pada waktu kecil dimana seharusnya anak kecil menerima kasih sayang dan kehangatan dari orang tua secara sehat. Trauma itu sesuatu yang dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap realitas masa kini. Masa kini menjadi diinterpretasikan tidak aman dan berbahaya.
Otak manusia itu diciptakan Tuhan sangat luar biasa. Ketika terjadi peristiwa berbahaya dan mengancam, respon pertama adalah respon fight and flight. Hormon Adrenalin dalam tubuh kita meningkat dan detak jantung menjadi cepat. Kemudian kita mengambil langkah cepat untuk fight / flight.
Namun ketika peristiwa yang mengancam dan berbahaya itu berlangsung terlalu lama, maka akan membuat sistem alarm di dalam tubuh kita menyala terus. Hal ini memungkinkan kita akan terus ada di dalam posisi waspada dan survival mode. Ini sangat melelahkan. Bahkan dapat mengakibatkan sistem alarm-nya konslet dimana ketika tidak ada bahaya namun ada sensor ke otak yang mengirimkan signal bahaya terus menerus. Dan ternyata tahap terakhir jika bahaya dan ancaman tidak kunjung padam dan alarm tubuh kita terus menyala maka akan mengakibatkan disasosiasi dan shutdown. Dengan mode ini maka seseorang ada di dalam mode survival dimana dia sudah tidak bisa mengenali waktu, dirinya dan perasaannya sendiri. Inilah yang terjadi ketika seseorang mengalami trauma yang hebat.
Dan akibat trauma yang hebat ini adalah seseorang sering mengalami ingatan terpecah masa lampau yang terfragmentasi antara suara, penciuman, penglihatan, perasaan, cerita narasinya, dll. Ingatan traumatik ini akan berrulang-ulang dan dapat menjadi flashback yang menghantui.Namun yang lebih menakutkan adalah perasaan dan stress serta tekanan di masa lampau itu akan terus dirasakan di masa kini. Sistem alarm dan survival mode akan menyala terus. Orang yang mengalami trauma seperti ini tidak bisa hidup di dalam masa kini secara menapak. Mereka hidup di masa lampau dan kuatir tentang masa depan.
Seseorang yang mengalami trauma akan sering salah menafsirkan signal emosi dari orang lain. Dia mungkin berespon dengan marah, mudah tersinggung, apatis, dan lain-lain. Dan orang yang berelasi dengan orang yang mengalami trauma juga akan menginterpretasikan signal emosi penderita trauma dan akan merasa tidak nyaman bahkan menimbulkan kecemasan bagi diri mereka sendiri
Apakah ada pengharapan bagi mereka yang mengalami pengalaman traumatik ?
Bagaimana efeknya kalau kita memahami ada Pribadi yang menghadapkan wajahNya, memberkati kita dan memberikan kita berkat dan anugerahNya ? Dapatkah kita memandangnya dengan mata iman dan apa efeknya bagi tubuh kita ?
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Ayat ini dapat diterjemahkan dengan pengertian kontemporer bahwa Tuhan Ketika memandang kita, Dia tersenyum dan memberikan kasih karunia serta damai sejahtera.
Saya percaya wajah Tuhan yang penuh kasih kepada kita adalah jawaban mengenai perihal trauma. Wajah Tuhan yang penuh kasih karunia itu memungkinkan untuk rewiring brain kita sehingga manusia mengalami damai sejahtera. Otak kita mempunyai brain plastisitas dan kemungkinan berubah. Proses menyembuhkan traumatik dengan melibatkan Tuhan dapat terjadi yaitu ketika kita sedang Mindfulness dan Doa serta membawa trauma dan sakit psikologis kita kepadaNya.
Lalu wajah Tuhan itu seperti apa ? Bukankah Tuhan itu tidak kelihatan ? Wajah Tuhan dinyatakan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Cahaya kemuliaan Allah dan wujud Allah. Tuhan Yesus berinkarnasi menjadi manusia dan menjadi sama dengan kita manusia hanya Dia tidak berdosa. Ketika Ia hidup di dunia ini, Dia menyatakan siapa Allah sesungguhnya dan bagaimana wajah Allah yang penuh kasih karunia dan damai sejahtera dinyatakan kepada umat manusia. Dia menyatakan Allah Sang Kasih itu. Kasih Allah dinyatakan kepada kita ketika kita masih berdosa, Kristus sudah mati bagi kita.
Lalu sekarang Tuhan Yesus sudah naik ke surga. Bagaimana kita dapat melihat perkenanan wajah Tuhan yang menyejukkan hati kita ? Yaitu melalui mata iman. Iman adalah melihat yang tidak kelihatan dan melalui iman kita juga berelasi dengan Tuhan Allah.
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. ( Ibrani 11:1-3 )
Ibrani 11:6
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Galatia 2:20
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Puji Tuhan.
2 Korintus 5:7
“sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”
Dengan mata iman kita melihat bahwa Allah Bapa kita di surga tersenyum dan mendukung kita terus untuk maju memuliakan namaNya. Ini begitu menyejukkan jiwa.
Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. ( Mazmur 34:6 )
Bersambung…..